Universitas Nahdlatul Ulama NTB

Mataram, NTB — Kegiatan silaturrahim antara Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama dan Pimpinan Wilayah Muslimat NU Nusa Tenggara Barat sukses diselenggarakan pada 4 April 2026 di Ballroom Atqia Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat. Agenda ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat konsolidasi organisasi, peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan, serta sinergi program kerja berbasis kebutuhan masyarakat lokal.

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting Muslimat NU, di antaranya Khofifah Indar Parawansa selaku Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat Muslimat NU, Arifatul Choiri Fauzi sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU, serta Siti Aniroh yang turut memberikan penguatan kelembagaan dari perspektif organisasi Nahdlatul Ulama secara nasional. Hadir pula Syarifah Noorhidayati yang menekankan pentingnya kesinambungan program perempuan berbasis komunitas.

Secara substantif, kegiatan silaturrahim ini tidak hanya bersifat seremonial, melainkan juga menjadi ruang diskursif untuk membahas isu-isu strategis terkait pemberdayaan perempuan, penguatan ekonomi keluarga, serta kontribusi Muslimat NU dalam pembangunan sosial berbasis keagamaan. Pendekatan ini sejalan dengan paradigma pembangunan inklusif yang menempatkan perempuan sebagai aktor utama dalam transformasi sosial.

Dalam sambutannya, Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa Muslimat NU memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi umat melalui program-program berbasis komunitas. Ia juga menekankan pentingnya adaptasi organisasi terhadap dinamika sosial kontemporer, termasuk pemanfaatan teknologi digital dalam penguatan jaringan dan dakwah sosial.

Sementara itu, Arifatul Choiri Fauzi menyoroti perlunya sinkronisasi program antara pusat dan wilayah agar implementasi kebijakan organisasi dapat berjalan efektif dan tepat sasaran. Menurutnya, wilayah NTB memiliki potensi besar dalam pengembangan program berbasis kearifan lokal yang dapat direplikasi secara nasional.

Dari perspektif kelembagaan, kegiatan ini mencerminkan model tata kelola organisasi yang kolaboratif dan partisipatif. Interaksi antara pimpinan pusat dan wilayah memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan, pengalaman, serta best practices yang dapat meningkatkan efektivitas program Muslimat NU di berbagai daerah.

Namun demikian, terdapat tantangan struktural yang perlu diantisipasi, antara lain kesenjangan kapasitas sumber daya manusia antarwilayah, keterbatasan akses terhadap pendanaan program, serta kebutuhan akan sistem monitoring dan evaluasi yang lebih terintegrasi. Oleh karena itu, diperlukan strategi penguatan kelembagaan berbasis data dan evidensi untuk memastikan keberlanjutan program.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat ini juga menunjukkan peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung kegiatan organisasi kemasyarakatan, khususnya dalam penyediaan ruang dialog akademik dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sinergi yang lebih kuat antara Pimpinan Pusat dan Wilayah Muslimat NU dalam merespons tantangan sosial serta memperluas kontribusi organisasi dalam pembangunan nasional berbasis nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *